Pengembangan Pembelajaran Sains Anak Usia Dini

Diposting oleh Sri wahyunengsi

Analisis Pembelajaran Sains Anak Usia Dini

BAB I

PENDAHULUAN

1. Apakah Sains itu?

Sains berasal dari kata Latin scientia yang berarti ” Saya tahu “.Sain dapat diartikan ilmu yang mempelajari sebab akibat dari kejadian yang terjadi di alam ini. Tetapi banyak kejadian yang tidak dapat atau belum dapat dijelaskan oleh sains.

Kamus mendefenisikan natural science sebagai systematic and formulated knowledge dealing with material phenomena and based mainly on observation and induction, yaitu ilmu sistematis dan dirumuskan yang berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan, dan didasarkan atas pengamatan dan induksi.

Meskipun kegiatan dalam sains hampir selalu berhubungan dengan eksperimen namun konsep sains adalah hasil tanggapan pikiran manusia atas gejala yang terjadi di alam ini.

Sains juga dapat dikatakan sebagai ilmu teoritis.Tetapi suatu teori betapapun indahnya dirumuskan,tidaklah dapat dipertahankan kalau tidak sesuai dengan hasil observasi dan teori tidak dapat berdiri sendiri.Teori selalu didasari oleh suatu hasil pengamatan.Jadi, bahwa sains adalah suatu jenis ilmu pengetahuan teoritis yang diperoleh dengan cara khusus maka dengan cara observasi, eksperimentasi, penyimpulan, pembentukan teori, eksperimentasi, observasi dan  suatu seterusnya kait mengait antara cara yang satu dengan cara yang lain. Cara memperoleh ilmu itu terkenal dengan nama metode ilmiah.

Sains merupakan suatu “badan pengetahuan tentang benda-benda si alam yang diperoleh dengan cara tertentu.Sains mulai dengan fakta dan berakhir dengan fakta.Teori merupakan suatu bagian yang penting yang mana teori dibuat menjelaskan hukum dan meramalkan sesuatu yang baru.

Teori adalah suatu sistem pemikiran mengenai bagaimana terjadinaya sesuatu atau bagaimana rupa sesuatu,sebab hakekat dari kejadian alam sering tidak terjangkau dengan observasi langsung.

ANALISIS

Sains bukan berisikan rumusan atau teori-teori yang kering melainkan juga mengandung nilai-nilai manusiawi yang bersifat universal dan layak dikembangkan serta dimiliki oleh setiap individu di dunia bahkan dengan bagitu nilai sains bagi kehidupan menyebabkan pembekalan sains yang dapat diberikan sejak usia anak masih dini.

2. Siapakah Ilmuan itu?

Ilmuan merupakan padanan kata dari Scientist yang diambil dari istilah dalam Bahasa Inggris.Dapat disimpilkan bahwa seseorang dikatakan sebagai sainstis dapat dilihat dari aspek:

a    Dari cara kerja dalam menyikap alam dan menyelesaikan permasalahan.

b    Dari kemampuan menjelaskan hasil dan cara memperolehnya.

c    Dari sikap terhadap alam dan permasalahan yang dihadapinya.

Sikap-siakap sainstis:

  •  Memiliki hasrat ingin tahu tinggi.
  • Memiliki sikap tidak mudah putus asa.
  •  Memiliki siakap keterbukaan untuk dikritik dan diuji.
  • Memiliki sikap menghargai dan menerima masukan.
  • Memiliki sikap jujur.
  • Memiliki sikap kritis.
  •  Memiliki sikap kreatif.
  •  Memiliki sikap positif terhadap kegagalan.
  •  Memiliki sikap rendah hati.
  •  Hanya menyimpulkan bila didukung oleh data yang memadai.

Bagaimanakah dengan karakteristik anak usia dini yang memiliki kesamaan dengan indikator sains diatas?Hal ini dapat dijelaskan yang pertama setiap anak secara genotf memang sejak lahir dianugrahi oleh Tuhan alat-alat untuk mengisi kehidupannya dalam keadaan yang cukup lengkap sesuai dengan fitrahnya sebagai makhluk yang sempurna.

Kedua, hal ini dipandang sebagai titik dan pengalaman anak yang dapat dijadikan titik tolak dalam pengembangan,pembinaan dan pembelajaran sains pad anak secara khusus maupun umum.

ANALISIS

Dengan segala potensi yang melekat pada anak kita sebagai guru bertanggung jawab terhadap pendidikan mereka dengan menambah wawasannya,mengembangkan pembelajaran sains dan pengalaman-pengalamanya dengan menghadirkan dunia sains kehadapan anak.Sehingga anak dapat mengenal sains dengan baik.

3. Sains, Kita dan Anak

Proses sains bagi anak-anak dapat menghantarkan menuju seorang sainstis yang hebat.Contohnya anak yang berpotensiuntuk menjadi seorang sainstis karna anak dilengkapi dengan atribut untuk menempuh pengalaman-pengalaman sains.

Dengan segala potensi yang dimiliki oleh anak,bagaimanakah implikasi seorang guru senantiasa dekat dengan anak dengan memberikanlebih luas wawasan,lebih kaya pengalamn,dan lebih kuat dibandingkan dengan kehidupandan keadaan anak-anak.

Sebagai fasilitator,guru ditunjuk untuk mendorong agar anak dapat mempelajari sains secara benar,mengingat semua yang sedang dan telah dipelajarinya dengan lebih baik.

Pengembangan pembelajaran sains akan menjadi pendidikan yang baik jika kita mampu mengindividualisasikan sains pada anak secara baik yaitu menjadi sifat pribadi melekat pada kehidupannya,berkembang sesuai karakteristiknya serta sesuai dengan kesanggupan anak.

Untuk mencapai kesempurnaan,kita mengenalkan sains pada anak adalah dengan mencocokkan atau mendekatkan suatu kebenaran did dunia ini ke dalam sistem pengetahuan anak.Dengan menerima tantangan jika imgin menjadi pengembang sains sehingga anak sebagai investasi dan generasi penerus dapat difasilitasi secara tepat dan efektif.

ANALISIS

Dalam pengembangan sains pada anak usia dini,kita memberikan pendidikan dan pembelajaran sains yang efektif dan optimal dengan cara menyatukan sains dengan anak dalam satu pusat atau kegiatan yang sinergis dan harmonis.Dengan kemampuan dan pengemasan dan pengembangan program pembelajaran sains yang sesungguhnya.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pentinya Pengembangan Pembelajaran Sains Pada Anak Usia Dini.

A. Tujuan Pembelajaran Sains Bagi Anak

  1. Pentingnya Tujuan Dalam Pembelajaran Sains.

Bidang pembelajaran sains merupakan suatu keharusan karena dapat dijadikan sebagai standar menentukan tingkat ketercapaian keberhasilan dari suatu program pembelajaran yang dikembangkan dan dilaksanakan.

Suatu tujuan yang dianggap menjadi standard an memiliki karakteristik yang ideal apabila tujuan yang dirumuskan memiliki tingkat ketepatan (validity),kebermaknaan (meaningfulness),fungsionjal dan relevansi yang tinggi dengan kebutuhan serta karakteristik sasaran.

  1. Tujuan Pengembangan Sains Pada Anak Usia Dini

Tujuan pendidikan sains sejalan dengan tujuan kurikulum yang ada di sekolah yaitu, mengembangkan anak secara utuh baik pikirannya,hatinya maupun jasmaninya atau mengembangkan intelektual,emosional dan fisik jasmani atau aspek kognitif,afektif dan psikomotorik anak.

Tujuan yang mendasar dari pendidikan sains adalah untuk mengembangkan individu agar melek terhadap ruang lingkup sains serta mampu menggunakan aspek fudamentalnya dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.

Pengembangan pembelajaran sains anak usia dini hendaklah ditujukan untuk merealisasikan empat hal,yaitu:

n  Pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini ditujukan agar anak-anak memiliki kemampuan memecahkan masalah yang dihadapinya melalui penggunaan metode sains.

n  Pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini ditujukan agar anak memiliki sikap-sikap ilmiah.

n  Pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini ditujukan agar anak mendapatkan pengetahuan dan informasi ilmiah.

n  Pengembangan pembelajaran sains anak usia dini ditujukan agar anak-anak menjadi lebih berminat dan tertarik untuk menghayati sains yang berada dilingkungan.

 ANALISIS

Pengembangan pembelajaran sains diharapkan mampu meningkatkan kecerdasan dan pemahaman anak tentang alam beserta isinya dengan demikian kematangan perkembangan anak menjadi lebih utuh yaitu pembelajaran sains.

KESIMPULAN

Tujuan pendidikan dan pembelajaran sains dikaitkan dengan tiga dimensi:

Pertama,tujuan pengembangan pembelajaran sains diarahkan pada pengenalan dan penguasaan fakta,konsep,prinsip,teori maupun aspek lain yang ada didalam sains.

Kedua,dimensi sains proses yaitu,tujuan diarahkan pada penguasaan keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam menggali dan mengenal sains.

Ketiga,tujuan-tujuan program pengembangan sains yang dikaitkan dimensi sains sebagai sikap yaitu,pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini secara bertahap diarahkan pada suatu pembentukan probadi atau karakter.

B. Nilai Sains Bagi Pengembangan Kemampuan Kognitif,Afektif dan  Psikomotorik

a       Nilai Sains Bagi Pengembangan Kemampuan Kognitif

Nilai pengembangan kognitif ini mengarah pada dua dimensi,yaitu dimensi isi dan dimensi proses.Dimana melalui prosesatau aktifitas yang bermakna dengan menguasai konsep-konsep terkait dengan sains anak dengan membaca ,observasi, diskusi, eksperimen maka perkembangan kognitif anak terarah dengan benar.

Dimensi pengembangan pembelajaran sains pada anak,guru harus melakukan pendekatan-pendekatan yang mengarahpada tindakan yang benar yang mana pembelajaran akan membekas pada produk pembelajaran yaitu siswa sebagai sasaran.

Tetapi sebaliknyaketepatan guru dalam melaksanakan tindakan-tindakan dalam pembelajaranakan berdampak positif pada anak yaitu dengan pengalaman-pengalaman yang dimiliki anak masa kecil merupakan indikator kehidupan seseorang dimasa depannya,kegiatan-kegiatan masa kecil seseorang merupakan stimulasi bagi kehidupan dewasanya.

b       Nilai Sains Bagi Pengembangan Kemampuan Afektif

Pembelajaran sains harus sesuai dengan karakteristiknya dengan banyak memberikan kesempatan pada anak untuk dapat mengekspresikan emosinya pada dunia. Jadi dalam pengembangan disesuaikan dengan tuntutan prilaku yang terjadi secara nyata dalam kehidupan anak.

Besarnya pengaruh kehidupan dan lingkungan anak terhadap pembentukan nilai afeksi pada diri anak maka tugas guru dalam pembelajaran sains menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan,bermakna,menyentuh anak,sehingga dapat menumbuh kembangkan afeksi anak secara positif. Artinya dapat membentuk anak yang memiliki jatidiri dan sikap sebagai ilmuwan

c       Nilai Sains Bagi Pengembangan Psikomotorik Anak

Pengembangan pembelajaran sains yang melibatkan anak secara optimal akan membantu perkembangan psikmotorik anak.Kesanggupan untuk menggerakkan anggota tubuh dan bagian-bagiannya diperu tukkan untuk manipulasi lingkungannya.

Pengembangan pembelajaran sains membantu psikomotorik kasar anak melalui aktifitas sains anak dengan cara membentuk bangunan dari pasir,bercocok tanam bunga dan begitupun dengan motorik halus seperti menggaris,mengukur dan memilah benda.

C.  Nilai Sains Bagi Perkembangan Berfikir Kritis dan Kreatifitas,Aktualisasi Diri dan Kesiapan Anak Serta Pengembangan Nilai Religius Anak

a  .Nilai Sains Bagi Perkembangan Keterampilan Berfikirdan Kreativitas Anak

Pengembangan aspek sains pada anak akan mengundang dan menumbuhkan rasa ingin tahu yang amat tinggi.Etting dan lingkungan belajar sains yang disediakan akan merangsang anak untuk memunculkan pertanyaan-pertanyaan menakjubkan dan tidak terduga.

Kegiatan sains kreatifitas anak akan diwujudkan secara nyata dalam bentuk konsep baru,megkreasiketerampilan baru dan lain-lainnya.Keagiatan sains yang diharapkan dapat mengembangkan anak secara signitifikan yang memenuhi syarat yaitu harus diwujudkan dengan kegiatan pembelajaran sains yang kreatif.

b. Nilai Sains Bagi Kemampuan Aktualisasi Dan Kesiapan Anak Dalam Mengisi Kehidupannya.

Pengembangan pembelajaran sains pada anaka dikemas sedemikian rupa sehingga pengembangan aspek perkembangan anak semakin baik.Artinya,jika akumulasi dari dampak pembelajaran sains terus berkembang akan berkontribusi positif terhadap peningkatan kemampuan anakuntuk mengaktualisasikan dirinya dalam kehidupan yang lebih luas.

Pembelajaran sains akan bermaknadalam penyiapan anak sebagai sumber daya manusia dan masih investasi bagi kepentingan kehidupan bangsa dan negara.Pengembangan pembelajaran sains yang kondusif pada anak usia dini merupakan predictor warga negara yang berkualitas dimasa mendatang.

c. Nilai Sains Bagi Perkembangan Religius Anak

Interaksi anak dengan lingkungannya dipersiapkan dan dikemas secara terprogram serta dilaksanakan dengan intervensi yang tepat dan sesuai dengan tugas-tugas perkembangan anak maka sasaran yang lebih akan tercapai.

Proses pengembangan perkembangan pembelajaran sains yang tepat pada anak akan dibiasakan menjadi sosok yang jujur dan tidak mudah berprasangka dan menjadi pribadi yang gigih dan tekun dalam menghadapi kesulitan dan menumbuhkan sikap yang religius yaitu rasa bersyukur dan Memuliakannya.

BAB III

CARA ANAK MEMPELAJARI SAINS

A     Siapakah anak itu?

Pada dasarnya hasrat yang tumbuh itu sudah ada pada anak sejak lahir.Dalam perkembangannya ia menunjukkan kebutuhan-kebutuhan yang tidak selamanya didasarinya.Akan tetapi jika kebutuhan-kebutuhan ini tidak terpenuhi maka akan menyebabkan perkembangan berjalan kurang lancer.Kebutuhan ini merupakan kekurangan-kekurangan daripada keperluan yang tidak terpenuhi.

Berdasarkan tinjauan usia kronologisnya para ahli menelaah karakteristik anak atau ciri khas yang melekat pada anak pada umumnya.

  1. Tinjauan Anak Berdasarkan Dimensi Usia Kronolgis

Pada masa anak usia dini adalah masa prasekolah atau kelompok usia antara 2 hingga 6 tahun.Ki Hajar Dewantara memandang bahwa masa kanak-kanak berada pada rentang usia 1 sampai dengan 7 tahun.Solehuddin membatasi secara kronologis anak usia dini adalah kisaran 0 sampai dengan 8 tahun.Menurut Fawzia prasekolah atau usia Taman Kanak-kanak dengan rentang usia anak 3 sampai 6 tahun.

Dapat disimpulkan bahwa Kesepakatan dan kesamaan cara pandang para ahli mengenai anak usia dini dilihat dari sisi usia kronologis yaitu anak usia dini adalah anak dengan usia dibawah 8 tahun.

a)     Tinjauan Anak Berdasarkan Pandangan Filosofis

Pendapat Frobel yang dipengaruhi oleh pendapat Pestalozi,berpendapat bahwa anak pada dasarnya berpembawaan baik dan berpotensi kreatif.Menurut Montessori Anak bukan sekedar fase kehidupan yang dilalui seseorang untuk mencapai kedewasaaan yang merupakan kutub tersendiri dari dunia kehidupan manusia.

Anak adalah makhluk yang aktif dan pe jelajah yang adaptif yang selalu untuk mengontrol lingkungannya.Masa kanak-kanak merupakan gambaran awal manusia sebagai seorang manusia tempat dimana kebaikan dan sifat buruk kita yang tertentu dengan lambat.

Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa, anak adalah makhluk individu yang memiliki potensi-potensi yang baik dimana dengan potensi yang dimilikinya itu anak berkembang melalui kegiatan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

b)     Tinjauan Anak Berdasarkan Karakteristik Perkembanganya.

Pada aspek perkembangan anak adalah merupakan tumbuh dan berkembang dalam keselruhan diri anak.Menurut Harlock karakteristik perkembangan terdiri dari:

  • Perkembangan fisik dengan lingkungan
  • Perkembangan motorik meliputi perkembangan motorik halus dan motorik  kasar.
  • Penrkembangan bicara yaitu bagaimana anak berbicara. Perkembangan emosi meliputi, tanggung ,cangmarah,cemas, cemburu,  kegembiraan dll.
  • Perkembangan sosisal, yaitu penyesuaian anak.
  • Perkembangan bermain meliputi bermain drama,bermain eksplorasi dll.
  • Perkembangan kretifitas,yaitu mengenai perbedaanperkembangan kreatif  pada anak dan ekspresi kreatifitas anak.
  • Perkembangan pengertian yaitu,mengenai perkembangan pengertian dan konsep pada anak
  • Perkembangan Moral yaitu,perkembangan moral dan disiplin.

              Perkembangan peran seks yaitu, pengalaman awal, bentuk tubuh, daya tarik,  emosi, nama, keberhasilan dll

B. Hakekat Belajar

  1. Konsep Belajar

            Pengertian belajar adalah suatu proses dimana suatu organisma (individu) berubah perilakunya akibat suatu pengalaman.Sesuai pengertian belajar adanya dimensi perubahan yang terjadi:

  1. Kepribadian,yaitu meiliki atau respon yang baru.
  2. Perilaku aktual maupun potensial,yaitu kemampuan melakukan kegiatan nyata   maupun yang bersifat tidak nyata.
  3. Kecakapan/keterampilan dalam bertindak,yaitu kemampuan yang terkait dengan  penggunaan motorik kasar maupun halus.
  4. Sikap dan kebiasaan,yaitupenerapan nilai-nilai kehidupan dalam perilaku  keseharian.\
  5. Pengetahuan dan pamahaman,yaitu penguasaan konsep,prinsip maupun teori.

b.  Bentuk- Bentuk Belajar

Kegiatan belajar yang dilakukan anak biasanya melibatkan berbagai (ragam) belajar.Bentuk-bentuk belajar sifatnya terbatas tetapi variasinya banyakbahkan tidak terbatas.Banyak variasi kegiatan belajar dikarenakan individu atau anak yang menjalani kegiatan belajar yang memiliki keragaman (every child id different) baik dalam perkembangan,karakteristik maupun kemampuan sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya.

            Enam bentuk dasar perbuatan belajar yaitu:

v  Mendengarkan,yaitu bentuk belajar atau perubahan perilaku yang didasarkan atas     tindakan mendengarkan.

v  Memandang (melihat) yaitu belajar memiliki dimensi terbuka.pertama arah belajar    lebih ditekankan pada fungsi indra sebagai alat untuk memperoleh pengalaman             belajar melalui jalur visual

v  Membau/mencium yaitu,Bentuk belajar dan perolehan pengalaman belajar melslui       membau atau mencium

v  Meraba dan mencicipi,yaitu Bentuk belajar yang memperoleh pengalaman   langsung dan bermakna

v  Menghafal,yaitu Bentuk belajar mengingat begitu banyaknya informasi, konsep,    teori dsn fakta yang ada disekitanya.

v  Membaca,yaitu Belajar melalui membaca dengan menyerap informasi melalui    bacaan yang berisi informasi pengetahuan yang telah dikemas dan disajikan secara  sistematis dalam bentuk tulisan.

c. Prinsip-Prinsip Belajar

            Prinsip adalah asas kebenaran-kebenaran yang menjadi pokok dasar dalam berpikir dan bertindak.Dengan mengacu padaa prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh Witherington maupun Ausuble terdapat beberapa asas yang semstinya diperhatikan leh guru dalam kegiatan belajar sehingga perencanaaan, pelaksanaaan dan penilaian kegiatan-kegiatan dalam program pengembangan sains berjalan semstinya.

       Prinsip-prinsip belajar yang dipegang teguh menurut kedua ahli:

  1. Belajar akan berhasil apabila anak melihat tujuan dan tujuan itu lahir  dan dekat dengan kehidupan ank.
  2. Kegiatan belajar hendaknya dapat merangsang seluruh aspek perkembangan anak, baik jasmani, rohani maupun emosional
  3. Lingkungan belajar yang diciptakan hendaklah bermakna dan mengandung arti bagi anak sehingga membentuk pola kelakuan yang berguna bagi kehidupan anak.
  4. Bantuan belajar yang diberikan adalah yang menunjang efektifitas dan efesiensi belajar anak dan dilakukan secara wajar.
  5. Adanya upaya pengintegrasian pengalaman belajar sebelumnya dengan pengalaman yang utuh, tidak mudah lepas atau hilang.
  6. Penyajian belajar hendaklah suatu keseluruhan harus lebih dahulu dimunculkan kemudian baru menuju suatu yang lebih spesifik.
  7. Belajar selalu umum dimulai dengan makna kehidupan yang dilalui setiap orang dan anak, bahwa hidup ini merupakan serangkaian pemecahan permasalahan yang bersifat terus-menerus.
  8. Belajar itu berhasil bila didasari telah ditemukan clue (kunci) atau hubungan diantara unsur-unsur dalam masalah itu, sehingga diperoleh insight atau wawasan dan pemahaman.
  9. Belajar berlangsung dari yang sederhana meningkat kepada yang kompleks, bergerak dari yang dekat dengan anak hingga yang jauh serta dari yang konkrit menuju abstrak.

d.  Pandangan Psikologis Tentang Cara Belajar Anak

  1. Pandangan Kaum Kognitivis Tentang Belajar Anak

Dalam pengungkapan cara belajar anak kaum kognitivis memberikan kontribusi yang berarti bagi dunia pendidikan dan pengajaran.Pemahman kaum kognitivis tentang perilaku manusia,bahwaperilaku manusia tidak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkanproses-proses mental,seperti motivasi, kesengajaan, keyakinan dan sebagainya.

Psikologi tidak anti terhadap aliran behavioristk, hanya kaum ini memandang bahwa kaum behavioristik dianggap tidak lengkap sebagai sebuah teori psikologi, sebab tidak memperhatikan kejiwaan yang berdimensi ranah cipta, seperti berfikir, mempertimbangkan dan mengambil keputusan.selain itu behavioristic tidak mau tahu urusan ranah rasa.

Brunner menganggap bahwa manusia sebagai pengolah informasi, pemikir dan pencipta.ia menyatakan bahwa individu bukan seperti mesin, yakni mengasosiasikan responkhusus dengan stimulus khusus.Baginya individu dan bukan pula aktif, tetapi

menjadi fungsional.

    Dua hal yang terkait dengan sains,yakni:

  1. Sains pengetahuan yang diperoleh manusia melalui proses aktif.
  2. Manusia aktif membangun pengetahuannya melalui hubungan informasi yang diperoleh ke dalam frame psikologisnya.

Lima tujuan dalam pengembangan program sains:

  • Membawa siswa untuk menentukan nilai dan kemampuan dalam menduga permasalahan, pendekatan terhadap maslah serta merealisasikan aktivitas pemecahannya.
  • Mengembangjkan kepercayaan diri siswa akan kemampuan memecahkan masalah dengan menggunakan pikiranya sendiri.
  • Membantu siswa agar memiliki dorongan diri untuk menggunakan kemampuannya dalam menghadapi berbagai mata pelajaran.
  • Mengembangkan cara berfikir ekonomis melalui pengembangan belajar yang mendorong mencari relevansi dan struktur dari apa yang dipelajarnya.
  • Mengembangkan kejujuran intelektual yakni kesadaran menggunakan peralatan dan bahan-bahan dari pengetahuan untuk menilai dan menguji  suatu pemecahan masalah, gagasan dan dugaan-dugaannya ia juga harus jujur dalam menghargai berbagai ilmu pengetahuan yang diperolehnya.

KESIMPULAN

Dari implikasi dari teori pandangan Brunner terhadap program sains bahwa tujuan pendidikan sains hendaklah diarahkan untuk melatih siswa dalam menggunakan pikiran, kekuatannya, kejujurannya, serta teknik-teknik yang dimilikinya dengan penuh percaya diri.

2. Pandangan Kaum Behavioristik Tentang Belajar Anak

          Behavioristik adalah aliran psikologi yang percaya bahwa manusia belajar karena pengaruh lingkungan.Belajar adalah perubahan perilaku yang terjadi melalui prses stimulus dan respon yang bersifat dinamis. Oleh karena itu dengan lingkungan yang sistematis, teratur dan terencana dapat memberi pengaruh yang baik sehingga manusia bereaksi terhadap stimulus tersebut dan memberikan respon yang sesuai.

       Menurut Skinner belajar adalah perubahan dalam perilaku yang dpat diamati dalam kondisi yang dikontrol secara baik.Ia mengatakan bahwa control yang positif (menyenangkan) mengandung sikap yang menguntungkan terhdap praktek pendidikan, dan akan lebih efektif bila digunakan.Menurutnya mengajar adalah mengatur kesatuan penguat untuk mempercepat proses belajar.

Beberapa Prinsip Pengajaran:

      Perlunya ada tujuan yang jelas dalam pengertian tingkah laku apa yang diharapkan dan disapai oleh para siswa.

      Memberi tekanan pada kemajuan individu sesuai dengan kesanggupannya.

      Pentingnya penilaian yang terus-menerus untuk menetapkan tingkat kemajuan yang dicapai

      Prosedur pengajaran dilakukan melalui modifikasi atas dasar hasil evaluasi dan kemajuan yang dicapai.

      Hendaklah digunakan positif reinforcement secara sistematis bervariasi dan segera manakala respon siswa telah terjadi.

      Prinsip belajar tuntas sebaiknya digunakan agar penguasaan balajarpara siswa dapat diperoleh sesuai dengan tingkah laku yang diharapkan

      Program remedial bagi para siswa yang memerlukan harus diberikan agar prinsip belajar tuntas.

      Peranan guru lebih diarahkan kepada perannya sebagai arsitek dan pembentuk tingkah laku siswa.

C. Anak, Belajar dan Sains

            Anak-anak secara nalurih aktif bergerak dengan kecendrungan mereka mengkontribusi bagi perkembangannya sendiri sebagai akibat dari upaya memaknai pengalaman kesehariannya dirumah, ditempat bermain, disekolah, dan dilingkungannya. Anak-anak secara aktif belajar dari observasi terhadap dan partisipasi dengan anak-anak lain dan orang dekat yang dipercayainya termasuk orang tua, pengaruh guru.

       Mekanisme belajar, anak-anak perlu mengembangkan sendiri berbagai hipotesis dan secara terus menerus membuktikannya melalui interaksi social, mengotak-atik barang dan proses berfikir sendiri mengamati apa yanag terjadi,dan memikirkannya.

            Anak dengan aktif dan terus-menerus mengolah berbagai pengalamannya dengan cara membongkar pasang, mengembangkan dan mereorganisasikan struktur mentalnya melalui berbagai proses yang dilakukannya.

            Dengan demikian fungsi dari pengajaran sains yang dapat menumbuhkan berfikir logis, berfikir rasional, berfikir analisis, dan berpikir kritisbdan berkontribusi secara signifikan dan pembentukan potensi anak.

       Pertimbangan dalam menyikapi sains sekaligus upaya pengembangan yang paling efektif dan produktif:

  • Setiap anak memiliki bakat dan potensi yang menakjubkan.
  • Anak adalah makhluk individu yang memiliki karakteristik dan kesiapan untuk dikembangkan pada focus tertentu dan menarik baginya.
  • Anak adalah pelajar
  • Anak adalah pelaku dan perencana
  • Anak adalah peka dan pengindra.
  • Anak adalah pemilik

BAB IV

PENGEMBANGAN PROGRAM PEMBELAJARAN SAINS

  1. Ruang Lingkup Program Pembelajaran Sains Untuk Anak Usia Dini

Ruang lingkup program pengembangan pembelajaran sains tercermin pada pengertian dan batasan-batasan yang terkandung dalam sains itu sendiri.Pertama dilihat dari isi bahan kajian dan kedua dilihat dari bidang pengembangan atau kemampuan yang akan dicapai.

Ruang lingkup sains dilihat dari isi bahan kajian meliputujagat raya(ilmu tentang bumi)mempresentasikan tentang pengetahuan-pengetahuan yang benar melalui alam semesta, meliputi astronomi, geologi, meteorology.Topik-topik umum pembelajaran pada anak usia dini,meliputi: 1) pengetahuan tentang binatang, matahari dan planet 2) kajian tentang tanah, batuan dan pegunungan, 3) kajian tentang cuaca

Sedangkan isi bahan kajian terkait tentang ilmu-ilmu hayati atau biologi seperti: botani, zoology, dan ekologi. Dan khusus mencakup kajian untuk nak usia dini biasanya menggambarkan tentang program sains meliputi: 1) studi tentang tumbuhan 2) studi tentang binatang atau hewan 3) studi tentang hubungan tumbuhan dengan hewan 4) studi tentang hubungan antara aspek-aspek kehidupan dengan

Lingkungannya.

            Arahan pengembangan program pembelajaran sains sebagai suatu program ditujukan pada perencanaan dan aktivitas sains dengan cara pengenalan dan perolehan sains yang benar,Sedangkan ruang lingkup program pembelajran sains sebagai produk,yaitu diarahkan pada perencanaan dan kegiatan sains yang dapat mengenalkan dan menggali hasil-hasil sains secara lebih bermakna, utuh dan fungsional bagi anak usia dini.

            KESIMPULAN

Program pembelajaran sains terkait dengan pengembangan sikap-sikap sains, diarahkan pada penguasaan sikap yang mencerminkan seorang ilmuan.Pembentukan sikap sains yang dapat dikembangkan adalah rasa tanggungjawab, rasa ingin tahu, disiplin, tekun, jujur dan terbuka terhadap pendapat orang lain.

B. Model Program Pengembangan Pembelajaran Sains

Terdapat beberapa model pengembangan program pembelajaran atau kurikulum yang dapat dijadikan pedoman dalm pengembangan program pembelajaran sains pada anak usia sini.Tiga pendekatan pengembangan kurikulum sains pada jenjang

  1. Pendekatan yang bersifat situasional,yaitu pembahasan tentang sains akan dielaborasi secara luasdan mendalam jika dalam pembelajaran muncul ‘ fenomena’ yang terkait dengan tuntutan pembahasan konsep dan pengalaman sains pada sasaran belajar.
  2. Pendekatan yang bersifat terpisah atau tersendiri,yaitu program pengembangan pembelajaran sains dikemas secara khusus dan tersendiri
  3. Pendekatan yang bersifat merger atau terintegrasi,yaitu pendekatan yang dikembangkan dengan cara digabungkan secara formaldan sistematis dengan bidang pengembangan atau disiplin ilmu lainnya.

C. Pengembangan Unit dan Perencanaan Pembelajaran Sains

  1. Pengembangan Unit Pembelajaran Sains

Jika kita konsisten dan komitmen model program yang dipilih adalah model yang sifatnya terintegrasi ,makanya pembelajaran sains sebaiknya menggunakan pendekatan unit,sebab dengan teaching unit dapat dilakukan dengan sistem interdisipliner dan terpadu.

Unit sains adalah sebagai skema konseptual yang berhubungan dengan ide, keterampilan dan aktivitas yang disatukan melalui topik dan tema sederhana.misalnya bumi dan permukaannya.Jadi unit adalah gambaran sasaran pengembangan pembelajaran sains yang akan dipelajari anak.

Prinsip dalam mengembangkan unit,diantaranya:

  1. Berhubungan langsung dengan pengalaman kehidupan nyata anak dan harus                  dibuat dari apa yang anak ketahui
  2. Mencerminkan konsep yang perlu dikuasai anak.
  3. Mendukung materi utama (dalam kurikulum) sehingga berdasarkan penelitian.
  4. Berupa materi terpadu antara konsep dan proses.
  5. Berhubungan dengan aktivitas yang sering kali dilakukan anak.
  6. Informasi terkait tema dapat dirasakan anak dan dapat didiskusikan.
  7. Materi yang sama hendaklah dilakukan melalui aktivitas yang berbeda.
  8. Hendaklah merupakan perpaduan dari beberapa area bahan apa dalam program          anak usia dini.
  9. Hendaklah dapat diperluas, dipandang, bahkan menarik didemonstrasikan anak.

Cara memilih tema atau unit yang tepat untuk integratif kurikulum untuk pengembangan pembelajaran sains:

l  Berdasarkan minat

l  Berdasarkan minat guru

l  Berdasarkan kebutuhan anak

l  Sesuai dengan situasi tahun itu, cuaca, dan kegiatan-kegiatan khusus.

l  Pertimbanagan prioritas pengetahuan yang mesti dikuasai anak.

l  Kurikulum sekolah dan harapan masyarakat

l  Ketersediaan sumber

b. Pengembangan Perencanaan Pembelajaran Sains

a)     Konsep Perencanaan Pembelajarann,

Perencanaan adlah aktivitas yang menggambarkan dimuka hal-hal yang harus dikerjakan dan cara mengerjakannya dalam mencapaitujuan yang telah ditentukan.Perencanaan pembelajaran adalah kegiatan memproyeksikan tindakan apa yang akan dilakukan dalam suatu pembelajaran dengan mengkordinasikan komponen-komponen pengajaran sehingga arah kegiatan (tujuan),isi kegiatan, cara pencapaian kegiatan serta bagaimana mengukurnya (evaluasi).

b)     Pengembangan Perencanaan Pembelajaran Sains

Terdapat dua tahapan dalam perencanaan sains

1. Tahap praperencanaan,yaitu tahapan yang ditempuh oleh seorang perencana sebelum merumuskan perencanaan sesungguhnya.

2. Tahap pengembangan,yaitu tahap melakukan kegiatan nyata dalam pembuatan               perencanaan.

Aktivitas-aktivitas yang dilakukanpada tahap pra perencanaan diantaranya adalah berfikir.Agar diperoleh tujuan yang dan kemampuan yang relevan dan fungsional bagi anak.hendaklah berpikir didukung dan didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang akurat, utuh, dan menyeluruh.

ANALISIS

Semua pekerjaan hendaklah didasarkan pada karakteristik anak. Jadi taraf intelegensi, daya kreativitas, motivasi, kemampuan berbahasa , perasaan dalam belajar baik dilakukan yang terkait dengan fisik maupun mental anak yang menjadi sumber inspirasi dan berpikir seorang perencana.

D. Strategi Dan Pendekatan Pembelajaran Sains Anak

Secara umum terdapat dua pendekatan yaitu pendekatan berorientasi pada guru dan pendekatan yang berorientasi pada amak.Pendekatan yang bersifat teacher centered yaitu otoritas dan dominasi aktivitas, interaksi, dan komunikaso dalam pembelajaran dikuasai oleh guru atau pengajar.Sedangkan student centered,yaitu sistem pembelajaran memberikan porsi dan lahan yang luas kepada peserta didik untuk terlibat dan aktif dalam proses pembelajaran.

Strategi atau cara-cara dipilih dengan pertimbangan dapat menyajikan dan memberikan aktivitas sains secara memadai serta terintegrasi pada anak, baik secara kelompok maupun individu.Dalam penerapan berbagai strategi tersebut dapat silih berganti dan saling mengisi sehingga kegiatannya menjadi lebih bermakna. Pelaksanaan kegiatan sains dilaksanakan di sudut area.Keterampilan Proses Sains dan yang dilatihakan:

v  Mengamati

v  Menggolongkan/Mengelompokan

v  Menafsirkan/Meramalkan

v  Meramalkan/Memprediksi

v  Menerapkan

v  Merencanakan penelitian

v  Mengkomunikasikan

E. Organisasi Kelas Untuk Pembelajaran Sains Pada Anak Usia Dini

a)     Distribusi Material Pembelajaran

Prinsipnya adalah guru harus dapat membagi material yang dibutuhkan untuk anak secara adil, memadai dan memungkinkan kegiatan pembelajaran sains berlagsung secara optimal.Kemampuan mengenal karakteristik dari setiap material sains, akan memudahkan dalam menyeleksi, memproduksi sekaligus mendistribusikannya untuk kepentingan anak dalam pembelajaran sains

b)     Penyediaan Area Atau Arena Bekerja Anak

Faktor penyedia area atau arena bekerja anak dalam mempelajari dan mengeksplorasi sains, merupakan unsur suksesnya aktivitas sains dalam pembelajaran.Syarat mutlak tuang kelas untuk pembelajaran atau ruang kerja sains untuk aktivitas anak adalah harus memadai, ketidaktersediaan arena kerja sains yang memadai akan mengganggu dan menghalangi dinamika anak dalamperolehan pengalaman belajar sains yang diikutinya.

Terkait dengan penyediaan arena untuk aktivitas sains, terdapat beberapa hal lain yang harus diperhatikan:

1. Aktivitas sains yang disediakan guru harus memungkinkan terjadinya interaksi antar group.

2. Meski guru memberikan kesempatan berkomunikasi antar kelompok anak yang sedang mempelajari sains, tetapi guru harus dapat mengkondisikan kelas agar       jangan sampai terjadi kontak antar group yang sifatnya tidak perlu.

3. Karena pada umumnya kelas yang ada cendrung dalam format tradisional,tugas guru yang utama dalam pengelolaan kelas adalah menemukan cara bagaimana memanfaatkan kelas tradisional menjadi kelas yang optimal dalam pembelajaran sains yang dilakukan dan dibawah bimbingannya.

4. Sarana penunjang kelas, seperti bangku,meja dan membelair hendaklah dikembangkan peralatan yang bersifat fleksibel dan anak sendiri mampu menata serta memindah-mindahkan.

c). Pemberian Petunjuk Bekerja/Belajar

Agar aktivitas berlangsung secara optimal dan dinamis,adalah kemampuan guru dalam memberikan penjelasan atu petunjuk kerja yang benar, jelas dan dimengerti oleh setiap anak sebagai peserta belajar sains seabab masalah pembelajaran sains akan muncul ketika anak tidak memahami harapan guru dan tuntutan tujuan dari aktivitas yang akan dan harus dilaksanakannya.

Hal yang harus diperhatikan:

l Sampaikanlah harapan dari pembelajaran sains yang akan dilaksanakan                    dengan kalimat penjelas yang sederhana.

l Memberikan penjelasan agar lebih dipahami anak dan dilengkapi dengan alat           bantu berupa material yang bersifat familiar dimata anak.

l Gunakanlah beberapa menit untuk mencontohkan penggunaan beberapa                    material yang akan digunakan anak dalam pembelajaran sains.

d). Mengatasi Kejenuhan Belajar

Jadikanlah perencanaan sebagai sumber inspirasi untuk mendinamiskan anak saat pembelajaran sains.Dengan memperhatikan pembelajaran sains yang efektif dan dapat dicapai,

Pertama: Pembelajran sains tersebut memudahkan anak mempelajari sesuatunya,seperti fakta,keterampilan dan nilai.

Kedua: Keteampilan digunakan yang melekat pada anak dan diakui oleh mereka yang berkompeten menilai.seperti guru.

 KESIMPULAN

Tempat anak dalam mempelajari sains dipersiapkan sebagai tempat yang mengasyikkan bagi setiap anak,sehingga mereka akan betah dalam bercengkrama dengan sains yang sedang dipelajarinya.

F. Penilaian Pembelajaran Sains Pada Anak Usia Dini

Evaluasi sains adalah proses penelusuran dan penentuan tingkat keberhasilan pembelajaran sains,sehingga diketahuibupaya-upaya selanjutnya, baik tindakan perbaikan, pengayaan maupun pengembangan lainnya.

Kegiatan evaluasi merupakan suatu kesempatan untuk merefleksikan pengalaman anak serta sebagai alat untuk mengetahui kemajuan proses maupun hasil belajar anak yang dicapai oleh anak.

Tujuan dan fungsi evaluasi:

n  Memberikan umpan balik terhadap program pembelajaran sains yang     dikembangkan,sehingga diketahui tingkat keberhasilan dan kegagalan.

n  Menentukan tingkat kematangan dan kemajuan perkembangan anak dalam kegiatan sains.

n  Sebagai bahan pertimbangan guru untuk menempatkan anakdalam kegiatan sains yang lebih sesuai dengan minat dan kemampuan yang mugkin anak capai.

n  Untuk mengetahui latar belakang kesulitan belajar anak selama mengikuti program pembelajaran sains

n  Memberikan informasi kepada orangtua/ wali tentang kemajuan dan kemampuan sains yang telah dimiliki anak.

n  Sebagai bahan masukan bagi yang memerlukan dalam memberikan pembinaan lebih lanjut.

Cara melakukan evaluasi pembelajaran sains pada anak usia dini:

  1. Observasi atau pengamatan
  2. Observasi adalah cara pengumpulan data penilaian yang pengisiannya berdasarkan pengamatan langsung terhadap sikap dan perilaku anak.
  3. Catatan Anekdok
  4. Catatan anekdok adalah kumpulan catatan tentang sikap dan perilaku anak yang khusus,baik yang positif maupun yang negatif.
  5. Percakapan atau Interview
  6. Percakapan adalah metode penilaian yang dilakukan melalui bercakap-cakap atau wawancara antara anak dengan guru baik di dalam kelas maupun diluar kelas.
  7. Pemberian Tugas
  8. Pemberian tugas adalah suatu metode penilaian dimana guru dapat                    memberikannya setelah melihat hasil kerja anak.
  1. Evaluasi akan lebih bermakna bila memperhatikan prinsip-prinsip:
  2. Evaluasi dilakukan dengan mengacu pada prinsip perkembangan bukan pada prestasi.
  3. Kegiatan evaluasi sains dilakukan selalu pada saat ank sedang dalam kegiatan.
  4. Lakukanlah evaluasi dengan vara alamiah atau naturalisme.
  5. Lakukanlah pennadaan, pencatatan dan reportase secara segera terhadap segala perilaku yang muncul pada anak saat dalam kegiatan sains.

G. Kriteria Kualitas Guru Untuk Pembelajaran Sains

  1. Guru sebagai perencana,yaitu menentukan alternatif-alternatif yang terkait dengan kebutuhan program sains.
  2. Guru Sebagai Insiator,yaitu guru sebagai pembuka gagasan atau inspiratif
  3. Guru Sebagai Fasilitator,yaitu guru mempunyai kewajiban memberi kemudahan dan keluasan terhadap anak untuk melakukan kegiatan sains.
  4. Guru Sebagai Observer,yaitu mengamati aktivitas anak berupa pengamatan intensitas maupun kesulitan anak.
  5. Guru sebagai Elaborator,yaitu guru mengajukan pertanyaan yang merangsang anak,sehingga dapat lebih meningkatkan kualitas pembelajaran sains yang dilakukan anak.
  6. Guru sebagai Motivator,yaitu guru mendukung dan memberi penguatan terhadap kegiatan pembelajaran sains.
  7. Guru sebagai Antisifator,yaitu memprediksi faktor-faktor yang diduga akan berpengaruh terhadap anak.
  8. Guru sebagai model,yaitu guru menunjukkan cara, sika dan ketekunan terkait dengan penggunaan perangkat sains.
  9. Guru sebagai Evaluator,yaitu guru melakukan pengamatan yang benar dan tepat melakukan pencatatan secara akurat serta berupaya membuat laporan sesuai dengan perkembangan anak yang sesungguhnya.
  10. Guru sebagai teman bereksplorasi bersama anak,yaitu guru berusaha memahami perilaku anak bukan anak yang memahami perilaku guru.
  11. Promotor agar anak menjadi pembelajar sejati,yaituguru selalu memberikan dorongan dan kesempatan pada anak agar rajin dan giat membaca dan rajin menelaah mencari keterangan serta pandangan baru melaui pustaka.

KESIMPULAN

Buku merupakan sumber sains dan membaca adalah alatnya.Guru harus mendukung serta memberikan keluesan pada mereka agar menjadi pembelajaran sepanjang hayat sehingga memotivasi minat baca mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Nugraha, Ali.2008,Pengembangan Pembelajaran Sains Pada Anak Usia Dini.Bandung:

Sukarno, dkk.1981.Dasar-Dasar Pendidikan Sains.Jakarta:Bhatara Karya Aksara

Pakasi, S. 1981.Pelajaran Sains Di Taman Kanak-Kanak dan Kelas I,II,III SD.Jakarta:Bhatara Karya Aksara

Anwar, M.Pd.2009.Pendidikan Anak Usia Dini.Bandung:Alfabeta

Padmonodewo, Soemiarti.2000.Pendidikan Anak Pra Sekolah.Jakarta:Rineka Cipta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s